Analisis
Krisis Pizza Hut dimasa Pandemi
Wabah COVID-19 yang merebak hampir di seluruh
belahan dunia mulai menampakkan dampaknya pada sektor krusial food and beverage
(FnB) di Indonesia. Beberapa perusahaan berbasis FnB berskala besar maupun
kecil mulai menjerit karena penurunan omset yang sangat drastis akibat dari
wabah asal Wuhan ini. PSBB juga sangat berpengaruh besar terhadap outlet yang
menyediakan fasilitas makan ditempat seperti “ Pizza Hut “
Pizza Hut adalah rantai restoran Amerika dan
waralaba internasional yang didirikan pada tahun 1958 di Wichita, Kansas oleh
Dan dan Frank Carney. Perusahaan ini dikenal dengan menu masakan
Italia-Amerika, termasuk pizza dan pasta, serta lauk dan makanan penutup. Pizza
Hut memiliki 18.703 restoran di seluruh dunia pada tanggal 31 Desember 2019,
menjadikannya rantai pizza terbesar di dunia dalam hal lokasi. Ini adalah anak
perusahaan dari Yum! Brands, Inc., salah satu perusahaan restoran terbesar di
dunia.
Emiten ritel pengelola gerai Pizza Hut Indonesia, PT
Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 85%
pada periode kuartal pertama tahun ini menjadi Rp 6,04 miliar. Padahal, pada
periode yang sama tahun sebelumnya, PZZA membukukan laba bersih Rp 40,17
miliar.
Demi bertahan dimasa pandemic ini sebagai seorang
Praktisi PR saya memiliki beberapa langkah dan ide untuk sebisanya bertahan
dimasa pandemi dan menuju New Normal ini seperti :
1.
Promosi di Media Sosial
Marketing via media sosial ini
memang menjadi fokus utama banyak bisnis di dunia, bahkan sebelum COVID-19
menyerang strategi marketing di sosial media ini sudah diterapkan.
2. Sistem
Take away
Saat kondisi seperti ini, tak memungkinkan
untuk para konsumen menikmati kopi di area cafe, sehingga Koinonia menggembleng
pelayanan via Grab Food dan Go Food untuk mendukung konsep take away, sistem
ini menjadi salah satu alternatif bagi para konsumen agar bisa membawa pulang
minuman dengan aman dan nyaman.
3. Pemotongan
Shift kerja karyawan

Komentar
Posting Komentar